Jumat, 13 Maret 2009
Kamis, 05 Maret 2009
Jejak Rekam Goa Akbar Tuban
Dari peristiwa alam, Goa Akbar kian kental nuansanya karena memiliki muatan sejarah perjalanan wali tanah Jawa selama syiar Islam.Siang itu terik mentari memapar bumi Tuban. Tapi, di belakang Pasar Baru Tuban, serombongan orang terus mengalir menuju sebuah goa yang amat terkenal di daerah dengan sebutan seribu goa itu. Mereka adalah peziarah dari Makam Sunan Bonang. Mereka berduyun-duyun menyusuri lorong demi lorong Goa Akbar yang telah dibuka secara resmi sebagai obyek wisata pada 1998 itu.
Hingga kini, Goa Akbar sudah dikelola dengan baik oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Tuban. Berbagai fasilitas untuk mengeksplorasi keunikan dan keindahan goa tersedia lengkap. Mungkin jauh dari perkiraan wisatawan tentang goa yang gelap dan berbau kotoran kelelawar. Di goa dengan lintasan sepanjang 1,2 kilometer itu, pengunjung akan mendapatkan suasana yang sangat berbeda.
Saat menuruni pintu goa, coba tengok ke atas, maka di situ akan didapati suasana layaknya memasuki atrium besar. Ruang dalam goa tampak kian menarik dengan dekorasi lampu hias. Sinar lampu itu membantu menampilkan sosok-sosok bebatuan stalagtit dan stalagmit yang mengagumkan. Sepanjang lintasan dalam goa, terdapat setidaknya tiga ruang besar semacam hall. Ruang besar ini kerap menjadi terminal pengunjung untuk santai sejenak.
Keunikan goa dan muatan sejarah yang terkandung di dalamnya, antara lain yang menarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk berkunjung ke tempat wisata ini. Menurut catatan Soekaton HM, Kepala UPTD Tempat Wisata Goa Akbar dan Bektiharjo Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Tuban, kunjungan wisatawan mencapai lebih dari 200 ribu orang pada 2006 lalu. “Wisatawan asing yang datang ke sini seperti dari Kanada, India, Belanda, dan lain-lain,” tambahnya.
Legenda
Sekira 500 tahun lalu, Sunan Bonang sedang melakukan perjalanan. Ketika menemui goa ini, Kanjeng Sunan Bonang terpesona dan seketika berucap, “Allahu Akbar”. Konon, sejak itulah, goa yang terletak di tengah Kota Tuban itu disebut Goa Akbar. Versi lain diceritakan, karena sekitar goa banyak dijumpai pohon Abar. Masyarakat setempat kemudian menyebutnya Ngabar.
Berdasar buku yang dihimpun Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Tuban, kata Ngabar berasal dari bahasa Jawa yang berarti latihan. Konon, goa ini pernah dijadikan tempat persembunyian untuk mengatur strategi dan latihan ilmu kanuragan prajurit Ronggolawe, yang ketika itu berencana mengadakan pemberontakan ke Kerajaan Majapahit. Pemberontakan itu disulut oleh ketidakpuasan Ronggolawe atas pelantikan Nambi menjadi Maha Patih Majapahit.
Karena seringnya dijadikan tempat latihan, goa dan daerah sekitarnya dijuluki Ngabar, yang kemudian seiring waktu menjadi nama dusun yaitu Dusun Ngabar, Desa Gedongombo, Kecamatan Semanding. Cerita mengenai asal usul ini memang berkembang bervariasi. Pastinya, kata Akbar itu kini dipergunakan Pemerintah Kabupaten Tuban sebagai slogannya. Akbar bermakna Aman, Kreatif, Bersih, Asri, dan Rapi.
Goa Akbar mengandung kisah keagamaan sangat tinggi. Diceritakan, konon Sunan Bonang mengetahui goa ini karena diajak Sunan Kalijogo yang saat itu masih bernama RM Sahid. Bila disimak cerita pada relief di dinding sebelah utara pintu masuk, digambarkan RM Sahid yang adalah putra Bupati Tuban ke-9 yang bernama Wilotikto diusir dari rumah karena bertabiat kurang baik. Karenanya ia dipanggil dengan nama Brandal Lokojoyo. Pertemuannya dengan Sunan Bonang di Kali Sambung, Brandal Lokojoyo mengatakan kalau rumahnya di goa.
Alkisah, setelah ia terusir, RM Sahid memang tinggal di Goa Akbar. Perjalanan spiritual RM Sahid alias Brandal Lokojoyo kemudian menemui jalan kebenaran, dan terakhir menjadi Sunan Kalijogo. Beberapa tempat di Goa Akbar akhirnya dipercaya sebagai tempat perjalanan religius Sunan Kalijogo dan Sunan Bonang, di samping wali-wali yang lain.
Jejak Wali
Legenda yang terkandung dalam goa itu pun berpadu dengan kepercayaan dan perkiraan sejarah. Lihat, misalnya, dua buah batu di mushala sebelum pintu keluar goa. Jika diamati, kedua patung tersebut mirip dengan bentuk singa. "Dipercaya, kedua singa ini diperintahkan untuk menjaga goa," kata Soekaton. Di depan musholla terdapat ruang yang sangat luas yang dikenal sebagai Paseban Para Wali, atau tempat para wali menyampaikan fatwa dan ajaran agama. Paseban itu mirip ruang pertemuan. Stalagtit dan stalagmit juga seakan menjadi hiasan ruangan. Itu ditambah dengan adanya batu-batu besar yang terletak di bagian depan ruang, seakan menjadi podium bagi pembicara.
Ada pula batu yang disebut Gamping Watu Nogo yang dipercaya sebagai tempat pertapaan Sunan Kalijogo. Di bawah batu yang menjorok ke depan itu terdapat kolam. Diceritakan, kolam itu kadang bergolak dan mengepulkan asap, seakan ada dua ekor naga di dalamnya. Di pojok mushala juga terdapat sebuah ceruk yang diberi lampu berwarna merah.
Menurut cerita, selain tapak Sunan Kalijogo dan Sunan Bonang, ada Sunan Bejagung yang juga pernah bertapa di goa ini. Dalam cerita rakyat, Sunan Bejagung awalnya adalah petani biasa yang suka menanam jagung. Namun, ia memiliki kesaktian lebih. Setiap siang ia tak nampak dalam goa. Pada saat itu ia telah berada di Mekah untuk membantu menyalakan pelita.
Goa ini juga memiliki sumber air alami. Sumber air yang diberi nama Kedung Tirta Agung tersebut, menurutnya, airnya baru mengalir deras selepas tahun 1999. Di malam takbiran itu, Bupati Tuban mengadakan syukuran di dekat sumber mata air sambil membawa ayam hitam. Tiba-tiba air mengucur deras. Hingga kini, air tersebut diyakini memiliki khasiat, baik untuk kesehatan maupun untuk kekuatan.
Eksplorasi
Sebenarnya masih banyak lorong yang tampaknya belum dieksplorasi di Goa Akbar. Melihat struktur tanah di kawasan ini banyak mengandung kapur, tidak heran jika goa-goa di Tuban memiliki stalagtit dan stalagmit yang berbeda. Belum dieksplorasinya lorong-lorong di Goa Akbar ini juga menyisakan kisah yang perlu dieksplorasi untuk memperoleh keunikannya.
Lorong Hawan Samudra, misalnya, dipercaya tembus hingga Pantai Utara Tuban. Menurut cerita, lorong itulah yang digunakan untuk mengejar musuh kerajaan yang lari ke laut. Sementara lorong lainnya berujung pada Goa Ngerong di Kecamatan Rengel. Legenda ini bisa jadi memiliki nilai kebenaran, mengingat Prasasti Malenga dan Prasasti Banjaran yang bertahun 1052 ditemukan di Rengel. Karena itu pula Rengel dianggap sempat menjadi pusat pemerintahan saat itu.
Lorong lainnya juga dianggap bersambungan dengan sumber air Bektiharjo. Berdasar buku 700 Tahun Tuban yang disusun R Soeparmo, tempat ini merupakan salah satu tempat asal usul Tuban. Cerita berujung ketika Raden Arya Dandang Miring membuka hutan bernama Papringan lalu keluar air, sehingga disebut Tuban (Metu Banyu: Jawa).
Secara arkeologis, Goa Akbar diperkirakan sudah berusia lebih dari 20 juta tahun. Perkiraan ini didasarkan pada temuan fosil binatang laut seperti kerang di batu-batu dan dinding goa. Temuan itu kian menguatkan posisi Goa Akbar sebagai goa fosil. Hingga kini, fosil-fosil di batu tersebut dapat disaksikan dengan jelas.
Sebagai tempat wisata, pengelolaan Goa Akbar cukup serius. Mulai dari pintu masuk hingga jalur menyusuri lorong, sudah dilengkapi bermacam fasilitas untuk kenyamanan pengunjung. Sepanjang jalan dalam goa disediakan jalur dari paving block yang dibatasi oleh pagar steinless. Selain pagar pembatas, di sana sini tertempel larangan balik arah, agar pengunjung tidak sampai kebablasan tanpa memperhitungkan keselamatan. Di berbagai tempat dipasang lampu warna-warni sehingga kian membuat suasana nyaman.
Berbagai cerita yang terkandung di dalamnya, menjadikan tempat ini sangat penting. Selain menarik sebagai tempat wisata, Goa Akbar juga memiliki arti penting bagi ilmu pengetahuan, baik sejarah, arkeologi, maupun agama. Namun, kondisi goa ini mesti dijaga bersama. Jangan sampai bernasib kurang bagus seperti banyak terjadi di tempat-tempat bersejarah lain. –hm
------oOo------
Ruang dan Ornamen Batu di Goa Akbar
Seiring beragamnya cerita yang menyelimuti, Goa Akbar memiliki banyak ruang dan ornamen batu dalam berbagai bentuk, yang memiliki jalinan kisah tersendiri. Kisah itu berkaitan dengan sejarah wali-wali dalam melakukan syiar agama di desa-desa hingga kawasan pantura (pantai utara).
- Pertapaan Andong Tumapak. Tempat ini dipercaya sebagai tempat pertapaan Sunan Bejagung (Sayyid Abdullah Asyari), penyebar agama Islam di Jawa sebelum Wali Songo. Konon, kanjeng Sunan Bejagung bertapa untuk memenuhi permintaan Bupati Tuban kala itu, untuk memohon petunjuk pada Tuhan dalam menghadapi serangan musuh.
- Sendang Tirta Merta berupa kolam air kehidupan yang bermakna kehadiran goa ini diharapkan bisa menjadi lapangan kehidupan masyarakat Tuban dan bisa meningkatkan kesejahteraan dan lapangan kerja.
- Lorong Hawan Samodra. Berdasar penelitian, di dalam lorong tersebut pernah ditemukan tanah bercampur ijuk, sehingga diduga dulu dipakai tempat penyimpanan harta karun.
- Ruangan Songgo Langit. Artinya dari sudur ruangan ini kita bisa melihat langit secara bebas melalui lobang angin.
- Sela Sardula berupa batu yang bentuknya mirip macan.
- Lorong Landak yaitu lorong tempat persembunyian atau sarang landak.
- Pendopo Watu Datar yang dulunya merupakan Goa Lawa (sarang kelelawar).
- Prapen Empu Supa atau batu iring dengan batu perapian untuk membuat senjata milik Empu Supa di Desa Dermawuharjo Kecamatan Semanding.
- Pasepen Kori Sinandhi yang berarti pintu atau tempat untuk semadi, bertapa, atau bersembunyi.
- Gawang Marabahaya. Bila masuk ke lorong sejauh lebih kurang 20 meter akan menemui sumur sedalam 14 meter yang di dalamnya terdapat sungai bawah tanah. Bila ditelusuri, sungai itu akan tembus ke Gua Ngerong, Rengel. Muaranya bisa dilihat di pantai Boom.
- Pendopo Sela Gumelar. Ruangan ini dulu beralaskan batu-batu yang tersebar secara rapi bagaikan tertata. Pernah digunakan sebagai tempat pertemuan atau istirahat para isteri wali sambil menunggu para wali rapat di ruangan lain.
- Pasunggingan Banyu Langse yaitu bentuk batu seperti aliran air. Nama ini diambil dari Pemandian Sungai di Boto Kecamatan Semanding.
- Pertapaan Sela Kumbang sebagai tempat pertapaan yang terletak di atas tanah.
- Gampeng Watu Naga. Bentuk batu-batu ruangan itu bila digabungkan akan mirip dengan ular naga.
- Sela Turangga yaitu batu mirip kuda. Lorongnya bisa tembus ke Rumah Sakit Medika Mulia.
- Muhamandhapa Sri Manganti. Ruangan seperti pendopo besar dan luas, yang pernah digunakan sebagai tempat rapat, sidang, pertemuan para Wali Songo.
- Watu Gong atau sebuah batu yang bila dipukul bisa menghasilkan bunyi seperti gong.
- Pasujudan Baitul Akbar, yaitu tempat ibadah bagi umat Islam. Tempat ini pernah digunakan oleh Sunan Bonang untuk melaksanakan shalat.[dongengdunia]
Selasa, 03 Maret 2009
Cantiknya Batik Gedog Tuban
"Dog..., dog..., dog..., dog...," suara kayu yang saling beradu terdengar di sudut desa, dibalik rumah-rumah penduduk di Kecamatan Kerek Tuban. Berirama pelan bagai ketukan drum, tiap lima detik. Sesekali suara itu berhenti, menghadirkan kesenyapan. Tak lama, suara itu terdengar lagi, menghadirkan ritme yang sama.Ya, suara itu bersumber dari sebuah alat tenun yang terbuat dari kayu jati, yang dihentakkan. Sepasang tangan perempuan tampak sangat terampil memainkan alat tenun tradisional dan sederhana, yang sudah puluhan tahun usianya. Kedua belah tangannya menghentakkan alat tenun, sambil sesekali menata puluhan benang yang berjajar rapi, siap ditenun menjadi sehelai kain.Sumirah, warga Desa Margorejo Kecamatan Kerek, Tuban yang berada di balik alat tenun itu bertutur, setiap kali alat tenun itu digunakan untuk menenun benang akan menghasilkan suara dog... dog... yang terdengar sangat khas. "Makanya, kain tenun yang dihasilkan diberi nama tenun gedog," katanya dengan logat Jawa kental, sambil tersenyum.
Sambil terus menenun, Sumirah, 70 tahun, bercerita dirinya telah ditinggalkan suaminya sejak puluhan tahun lalu. Ia memiliki seorang anak yang kini sudah berputra satu. Berkali-kali sang anak mengajaknya hidup satu rumah. Tapi Sumirah menolaknya. Ia memilih tetap hidup sendiri di rumahnya yang juga sudah tua, sambil terus membuat tenun gedog sebagai penyambung hidupnya yang kian renta.
“Saya tidak punya sawah, juga sudah tidak kuat buruh di sawah. Jadi, satu-satunya yang bisa saya kerjakan ya menenun,” katanya lagi. Saat itu, dia sedang nggarap pesanan seorang pedagang, sepanjang enam meter. Dalam kondisi normal, ukuran itu biasanya bisa diselesaikan dalam tiga atau empat hari. Tapi dalam kondisinya sekarang, Sumirah baru bisa menyelesaikan dalam waktu tidak tentu. Kadang seminggu bahkan sepuluh hari.
Hasil kain tenun sepanjang enam meter itu dihargai Rp 60 ribu. “Beli bahannya saja Rp 15 ribu. Kalau dibeli dengan harga Rp 60 ribu berarti cuma dapat Rp 15 ribu,” katanya merinci. Padahal, menenun diakuinya sangat rumit prosesnya. Mulai mengulur benang, membagi benang sesuai warna dan merajutnya tiap helai, memasangnya pada alat tenun sampai proses tenun sangat panjang dan rumit. Dan itu dikerjakan sendiri, tanpa bantuan siapa pun. Jika tidak biasa, rasanya tidak akan sanggup mengerjakannya.PotretTapi, pekerjaan itu dilakoni Sumirah dengan lapang dada. Baginya, menenun kain gedog bukan semata pekerjaan. Namun sekaligus sebagai pelestarian tradisi, turun-temurun yang entah dimulai sejak kapan. Sejak Sumirah masih kecil pun pekerjaan tenun-menenun sudah ada sebelumnya.
Hingga kini, apa yang dilakukan Sumirah adalah potret dari kegiatan banyak perempuan di Kecamatan Kerek. Di Tuban, Kecamatan Kerek merupakan pusat pembuatan kain tenun. Konon, di tahun 2000-an, jumlah perajin tenun mencapai 1.500-an orang, tersebar di desa-desa. Saat itu, kapas yang dibutuhkan 1.500 pembatik se-Kecamatan Kerek sekitar satu ton per bulan. Setiap 1,5 kilogram kapas jika ditenun menghasilkan selembar batik berukuran 2,5 meter dengan lebar 85 sentimeter.
Namun pada perkembangannya, perajin di desa-desa se-Kecamatan Kerek, seperti Kedungrejo, Margorejo, Jarorejo, Karanglo, Margomulyo, Temayang, Wolutengah dan Gaji, jumlahnya makin menyusut. Ditaksir perajin yang tersisa hanya sekitar 1000 orang. Jumlah itupun termasuk perajin baru yang tersebar di desa Bongkol dan Semanding Merakurak, Tuban.
Menurut Sumirah, batik gedog sebenarnya hampir punah. Ini disebabkan orang sudah tidak suka lagi memintal benang. "Kalau membatik, orang masih senang. Tetapi memintal benang, sangat jarang orang mau. Paling hanya ibu-ibu tua yang mau karena sudah tidak kuat lagi ke ladang. Tetapi, untuk membatik matanya juga sudah tidak mampu. Mungkin karena itulah sehingga orang enggan memintal benang," katanya.
Bagi warga desa di Kecamatan Kerek, pekerjaan utamanya adalah bertani. Sedangkan batik dibuat hanya untuk mengisi waktu luang, saat tanaman sudah ditanam, dan mereka hanya tinggal menunggu waktu panen saja. "Saat musin tanam atau panen, tidak ada yang menenun atau membatik. Semua sibuk di sawah seperti sekarang ini," ujarnya. Saat itu memang agak susah menemui perajin. Hanya satu dua yang kelihatan tekun menenun atau membatik, lainnya rata-rata sedang tidak di rumah, sibuk di sawah.
Namun belakangan batik gedog sudah mulai menggeliat. Benang pintalan sudah tersedia dalam bentuk jadi, tinggal menenun. Para pembatik Tuban juga mulai menyadari bahwa batiknya unik dan cocok dengan selera masyarakat, tidak terkecuali kelas menengah atas, termasuk turis mancanegara.Motif UnikDalam buku Batik Fabled Cloth of Java karangan Inger McCabe Elliot tertulis, sebenarnya batik Tuban mirip dengan batik Cirebon pada pertengahan abad ke-19. Kemiripan ini terjadi pada penggunaan benang pintal dan penggunaan warna merah dan biru pada proses pencelupan. Namun, ketika Kota Cirebon mengalami perubahan dramatis dan diikuti dengan perubahan pada batiknya, batik Tuban tetap seperti semula.
Salah satu ciri batik gedog dari Tuban adalah serat benangnya yang kasar. Menurut Aslichah, 45 tahun, pedagang Batik Tulis Gedog, biasanya perajin membuat tiga variasi ukuran kain tenun selain ukuran baku tersebut. "Kalau seser berukuran panjang dua meter, taplak panjangnya satu meter, sedangkan putihan sepanjang tiga meter," katanya.
Selain panjang kain yang beragam, setiap kain juga mempunyai kerapatan tenunan yang berlainan. Struktur tenunan yang merangkai kain itu akan menentukan bentuk perlakuan yang akan diterima oleh kain selanjutnya. Misalnya kain seser, yang mempunyai kerapatan rendah. Jalinan benang penyusun kain tersusun jarang-jarang sehingga terdapat celah antarbenang yang berbentuk kotak-kotak. Akibatnya, kain seser ini tidak dapat diberi motif batik seperti yang saat ini sedang dikembangkan oleh para perajin."Kalau mau dibatik, mending buat tenun putihan saja yang tenunannya rapat dan kainnya lemas," ujar isteri HM Sholeh itu. Rahasia membuat variasi kerapatan hasil tenunan, ungkap guru agama itu, adalah dari cara menghentakkan kayu bagian alat tenun. Semakin keras dihentakkan, maka kerapatannya akan semakin tinggi.
"Salur warna-warni dalam selembar kain dihasilkan dari benangnya, bukan dari celupan," ucapnya. Setiap kali akan menenun, setiap benang sudah diberi warna sendiri, sehingga warna yang dihasilkan dalam setiap helai kain merupakan "warna asli" kain itu.
Hal ini berbeda dengan beberapa jenis kain tenun yang pewarnaannya dilakukan usai kain selesai ditenun. "Khusus untuk tenun gedog batik, proses pembatikan dilakukan setelah kain putihan selesai ditenun. Prosesnya sama seperti membatik kain biasa," tambahnya.
Aslichah sendiri terus mengasah ide dan terus mengembangkan warna alam untuk batik buatannya. Guna memperoleh warna batik yang sangat alami, percobaan demi percobaan dilakukannya. Inovasi untuk melahirkan warna alam sesuai dengan warna aslinya terus dimunculkan. "Semua daun, pohon serta tumbuhan sudah saya coba untuk mencari warna alam yang benar-benar alami. Ciri khas batik gedog warnanya nila, agak kegelap-gelapan dan warna ini saya pertahankan sebagai identitas batik gedog Tuban," tuturnya.
Diceritakan, aslinya batik gedog Tuban berasal dari benang yang ditenun dengan cara tradisional. Kemudian kain hasil tenunan itu diberi batik dengan motif-motif khas seperti yang berkembang sekarang. “Karena itulah kemudian, batik itu dinamakan batik gedog,” ujarnya.
Meski diakui masih banyak kendala, Aslichah merasa sudah mantap untuk terus menggeluti dunia batik. “Batik gedog tidak akan pernah punah,” kata ibu empat anak yang telah memulai usaha batik sejak sekitar 17 tahun lalu. Bahkan, menurut keyakinannya, batik tulis gedog akan semakin dikenal dan memasyarakat karena proses pembuatannya unik dibanding dengan batik tulis lain yang tinggal membatik di atas selembar kain produksi pabrik.
"Keistimewaan batik gedog, bukan hanya proses pembuatannya, tetapi juga motifnya seperti panjiori, kenongo uleren, ganggeng, panji krentil, panji serong dan panji konang. Tiga motif batik terakhir dahulu kala konon hanya dipakai pangeran. Batik motif panji krentil berwarna nila malah dinyakini bisa menyembuhkan penyakit," ujarnya.
Motif-motif batik seperti itu, pada perkembangannya tak lagi pada kain tenun gedog semata. Oleh para perajin kemudian dikembangkan pada bahan-bahan kain lainnya, seperti kain katun dan lain-lain. “Itu merupakan salah satu tuntutan untuk memenuhi selera konsumen,” tambahnya.
Kalau semula kain batik tenun gedog terbatas hanya bisa dibuat untuk taplak meja, selendang, kemeja, kini sudah berkembang menjadi motif batik untuk kaos, daster dan pakaian wanita lainnya. Pada perkembangannya pula, menurut Aslichah, justru konsumen lokal banyak yang mencari batik kaos dan semacamnya. Sementara batik tenun gedog banyak dicari konsumen dari Bali atau turis mancanegara.Pengembangan PasarKeunikan batik khas secara kualitas terus membaik. Bahkan menurut Suwoto, pedagang batik asal Desa Jarorejo, Kecamatan Kerek, pemerintah daerah Tuban menetapkan bahwa batik gedog Tuban sudah memenuhi kualitas ekspor. Negara yang menjadi langganan batik gedog Tuban sementara ini adalah Jepang. Selain itu, dalam jumlah kecil, negara seperti Australia dan Belanda juga sering memborong.
Hal itu, menurutnya, tidak terlepas dari keinginan masyarakat sendiri yang ingin mengenalkan batik gedog kepada masyarakat luar. Disamping juga pemerintah sendiri telah banyak membantu untuk pengembangan batik di Tuban. Bantuan itu mulai dari pelatihan-pelatihan, manajemen hingga pendanaan.Suwoto, yang sudah memulai usaha batik sejak 1988, merasa terbantu ketika mendapat sokongan dana dari pemerintah senilai Rp 13 juta pada 2002 lalu. Modal itu kemudian dikembangkan Suwoto dengan memproduksi banyak batik. Suwoto mengaku, dirinyalah yang memulai membuat modifikasi batik ke kain-kain selain kain tenun gedog.
Seperti kaos dan daster ia buat batik ketika yang lain masih berkutat dengan batik tenun gedog. Saat itu sambutan pasar di luar perkiraan, sangat positif. Sehingga tak ayal, model modifikasi seperti itu diikuti oleh perajin dan pedagang batik tulis lainnya di Kecamatan Kerek.
Hingga kini, batik tulis produksinya sudah merambah ke kota-kota besar di Indonesia. Seperti di Jakarta, Bali dan kota-kota lain di Jawa Timur. “Di Jakarta dan Bali kebetulan ada teman punya galeri dan minta dipasok batik tulis Tuban,” ungkapnya. Selain di kota-kota tersebut, pedagang yang didukung 57 perajin itu, juga gencar memasarkan batik karyanya di tempat-tempat wisata di Tuban. “Pedagang lain juga seperti itu, mereka juga buka dagangan di tempat-tempat wisata di Tuban, seperti di Bonang, dan lain-lain,” ucap wanita berjilbab yang punya tiga toko batik tulis gedog ini.
Namun, belakangan bantuan dari pemerintah itu tidak lagi mengucur, sehingga tingkat produksinya kembali menurun. Kondisi itu rupanya juga dialami banyak pedagang batik tulis gedog di Tuban. “Rata-rata mereka mengeluhkan kondisi yang sama. Katanya kalau bantuan itu sudah dikembalikan, maka pedagang bisa mendapat pinjaman lagi, tapi nyatanya tidak ada,” katanya, tandas.
Selain itu, pemerintah juga mewadahi para pedagang yang ingin memajang batik tulis karyanya dalam berbagai pameran. Baik pameran yang diadakan oleh pemerintah di Tuban, maupun di kota-kota lain. Suwoto sendiri kerap mengikuti pameran, seperti di Surabaya, Bali bahkan Yogyakarta. “Pameran itu bagian dari promosi kami, meski antara biaya pameran sering tidak nyucuk (sesuai, red) dengan pendapatan,” katanya. Yang penting, baginya, batik tulis gedog bisa dikenal masyarakat luas.Seragam DinasUjud kepedulian pemerintah Tuban lainnya adalah dengan adanya anjuran kepala daerah terhadap jajaran pemerintahannya. Menurut Aslichah, istri HM Soleh, Bupati Tuban menganjurkan kepada seluruh dinas untuk memakai seragam bermotif batik tulis khas Tuban. Memang kemeja yang dibuat bukan dari kain tenun gedog, tapi kain katun yang dibatik dengan batik tulis Tuban.Diakui, adanya anjuran itu banyak memberi peluang kepada pedagang untuk melebarkan pasar ke berbagai ceruk potensial. Juragan yang dibantu 10 lebih tukang jahit itu, setiap tahun selalu kebanjiran order dari dinas-dinas. “Jumlahnya mencapai ribuan,” ungkapnya singkat. Bahkan, diakui, kalau kewalahan dia memborongkannya kepada tukang-tukang jahit kenalannya.
Anjuran kepala daerah itu bukan isapan jempol. Sebab, setiap Jumat para pejabat dari semua jajaran memakai seragam batik tulis Tuban. Selain para pejabat, PT Semen Gresik di Tuban juga punya program memakai seragam untuk seluruh karyawan. Biasanya dalam dua tahun sekali perusahaan semen itu memesan batik tulis Tuban. Jumlah pesanannya juga tidak main-main, Sekali pesan bisa mencapai 1.500 potong. Tapi belakangan jumlah pesanannya berkurang, hingga 1.200 saja.
Selain itu, pengurus Koperasi Kebonharjo milik Perhutani, juga memesan batik tulis untuk seragam anggotanya. “Banyak anggota koperasi di Tuban yang juga memesan batik tulis untuk dibuatkan seragam. Jumlah pesanan biasanya antara 300-500 potong,” tambahnya. Bahkan sekolah-sekolah mulai SD sampai tingkat menengah, juga menggunakan seragam berbatik tulis Tuban. Memang jumlahnya tidak banyak, “Biasanya sekitar 50-an potong untuk tiap tahunnya.” Namun diakui, model pesanan seperti itu banyak mendatangkan rezeki lebih kepada pedagang. Hanya saja, aku Aslichah, dirinya masih mengharapkan ada pesanan yang pasti, dalam tiap bulannya.
“Kalau ada seperti itu, usaha ini bisa ajeg pemasukannya. Sehingga kita tinggal mengembangkan pasar yang lebih luas, ke luar daerah atau bahkan mungkin ke luar negeri,” harapnya. “Hingga kini model pemasarannya hanya menunggu pembeli datang. Banyak juga pembeli dari Kalimantan, Sulawesi, Bali, Jakarta, Surabaya dan Malang. Kebanyakan mereka yang datang ke sini, bukan kita yang menawarkan hingga ke luar daerah.” Namun, dirinya tetap akan berproduksi batik tulis gedog Tuban dalam kondisi apapun. ”Selagi punya duit untuk beli bahan, dan sanggup menggaji karyawan, saya akan terus membatik,” katanya tandas. [dongengdalam.blogspot]
Langganan:
Postingan (Atom)
